Notification

×

Iklan

Iklan

Aksi Tanam Pohon Tandai Yubileum Santo Fransiskus Asisi di Tele Samosir

Minggu, 29 Maret 2026 | 20:54 WIB Last Updated 2026-03-29T13:54:02Z
Bersama para Stakholder dalam komitmen mengembalikan fungsi hutan kawasan Danau Toba di Tombak Raja TELE

Samosir.Internationalmedia.id.-Peringatan Yubileum Santo Fransiskus Asisi tahun 2026 ditandai dengan aksi penanaman pohon di kawasan Baniara, Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sabtu (28/3/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di lahan bekas PT TPL yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan Hutan Tombak Raja Tele, dan melibatkan berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI Rapidin Simbolon, para pastor dari Keuskupan Agung Medan, masyarakat adat, serta pegiat lingkungan.

Aksi penanaman pohon ini menjadi bagian dari upaya pemulihan ekosistem di kawasan Danau Toba yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan, erosi, dan sedimentasi yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan.

Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba (PP-DT), Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, menegaskan bahwa kegiatan ini harus menjadi momentum serius untuk membenahi tata kelola lingkungan secara menyeluruh, bukan sekadar aksi simbolis.
 
“Pemulihan hutan di Tele bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat di sekitar Danau Toba,” ujarnya.

Pastor Walden dan Pastor Guido dari JIPIC memberikan Pohon Beringin untuk di tanam di Kawasan Hutan TOMBAK RAJA  yg telah dirusak oleh Perusahaan Industri

Ia mengingatkan bahwa kondisi Danau Toba saat ini menghadapi tekanan berat akibat kerusakan hutan, erosi, dan perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali. Jika tidak ditangani secara terpadu, hal tersebut berpotensi mempercepat penurunan kualitas air dan mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada danau.

Menurutnya, upaya penyelamatan harus dilakukan melalui pendekatan yang seimbang antara aspek ekologis, sosial, dan kemudahan implementasi. 

Ia menekankan pentingnya penerapan teknik konservasi tanah dan air sebagai langkah paling efektif dan realistis dalam jangka pendek, disertai pengembangan agroforestry yang dapat memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan.

Selain itu, rehabilitasi hutan tetap diperlukan sebagai investasi jangka panjang untuk memulihkan keanekaragaman hayati dan fungsi hidrologis, meskipun membutuhkan waktu, biaya, dan dukungan yang besar. 

Sementara itu, pengendalian alih fungsi lahan dinilai penting sebagai langkah pendukung melalui penguatan regulasi dan pengawasan.

Wilmar juga menekankan bahwa keberhasilan upaya tersebut sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan sektor lainnya.

“Pengelolaan Danau Toba tidak bisa setengah hati. Harus ada sinergi dan komitmen bersama agar kelestarian lingkungan sejalan dengan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kegiatan ini diinisiasi oleh JPIC Keuskupan Agung Medan bersama Pastor Walden Sitanggang OFM Cap, dengan menggandeng Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Tano Batak dan masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat adat dinilai penting untuk memastikan upaya rehabilitasi hutan berjalan selaras dengan kearifan lokal.

Anggota DPR RI, Rapidin Simbolon menegaskan bahwa gerakan penanaman pohon tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Ini bukan sekadar seremonial. Kita ingin memastikan hutan di kawasan Danau Toba kembali pulih dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” katanya.

Sementara itu, Pastor Walden Sitanggang menyebut keterlibatan gereja dalam gerakan lingkungan sebagai bagian dari panggilan moral.

“Dalam semangat Santo Fransiskus Asisi, kami diajak untuk merawat ciptaan. Menanam pohon berarti menanam harapan bagi bumi,” ujarnya.

Aksi penanaman pohon berlangsung dalam suasana kebersamaan antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat adat, serta diharapkan menjadi langkah awal pemulihan lingkungan secara berkelanjutan di kawasan Danau Toba.(Ung)

×
Berita Terbaru Update