Di tengah percepatan transformasi digital global, Generasi Muda Sinaga menghadapi tantangan strategis untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi tanpa melepaskan akar budaya dan nilai leluhur.
Tantangan tersebut dinilai krusial dalam menjaga kesinambungan identitas budaya sekaligus memperkuat kontribusi generasi muda dalam pembangunan nasional dan global.
Pemahaman terhadap sejarah marga, nilai gotong royong, etika sosial, serta filosofi hidup masyarakat Batak—termasuk Sinaga—dipandang sebagai fondasi moral dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi. Akar budaya yang kuat dinilai memungkinkan lahirnya inovasi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga berkarakter dan berorientasi jangka panjang.
Isu keberlanjutan menjadi konteks utama abad ke-21, ketika perhatian dunia tertuju pada keterkaitan antara budaya, lingkungan hidup, dan kemanusiaan. Dalam kerangka tersebut, Generasi Muda Sinaga memiliki ruang kontribusi yang luas, khususnya dalam mengintegrasikan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan pemanfaatan teknologi digital.
Kawasan Danau Toba, yang berstatus sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan merupakan Bonapasogit masyarakat Batak, menjadi salah satu titik fokus yang menuntut keseimbangan antara pembangunan, identitas budaya, dan kelestarian ekologi.
Secara historis, marga Sinaga tercatat berperan dalam berbagai bidang strategis kenegaraan. Sejak masa awal berdirinya Republik Indonesia, terdapat tokoh-tokoh bermarga Sinaga yang dipercaya menduduki jabatan setingkat menteri, serta banyak yang mengabdi sebagai bupati, aparatur pemerintahan, dan pelayan publik di berbagai daerah.
Catatan tersebut dipandang sebagai bagian dari sejarah nasional dan tanggung jawab antargenerasi, bukan sebagai pengagungan individu. Prinsip JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kembali ditekankan dalam konteks ini.
Kontribusi marga Sinaga yang hingga saat ini beranggotakan sebanyak 700.000 Kepala Keluarga(KK) ini juga terlihat di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Putra-putri Sinaga terlibat dalam pendirian dan pengelolaan lembaga pendidikan, termasuk di sektor teknologi dan bisnis, serta dalam pengembangan kapasitas generasi muda.
Peran tersebut mencerminkan kontribusi nyata dalam memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk melalui kepemimpinan akademik pendidikan tinggi berbasis teknologi, riset, dan kebutuhan pembangunan nasional.
Di sektor lingkungan hidup dan keberlanjutan, keterlibatan putra-putri Sinaga tercatat dalam berbagai kegiatan advokasi, edukasi lingkungan, dan penguatan kesadaran masyarakat, khususnya di kawasan Danau Toba.
Kontribusi tersebut menjadi bagian dari proses panjang penguatan kawasan hingga memperoleh pengakuan internasional sebagai Toba Caldera Unesco Global Geopark. Pendekatan yang digunakan menempatkan ekologi, budaya, dan masyarakat lokal sebagai satu kesatuan, dengan solusi berbasis kearifan lokal dan ekoteologi untuk merespons kerusakan lingkungan.
Peran individu-individu tersebut tidak terlepas dari keberadaan organisasi kekerabatan PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru). Organisasi ini telah berdiri bahkan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia dan berfungsi sebagai wadah pemersatu, pelestari adat, serta ruang musyawarah dan solidaritas sosial lintas generasi.
Keberlanjutan PPTSB dinilai memperkuat kohesi sosial dan identitas marga Sinaga hingga saat ini. Organisasi Sosial ini secara berkesinambungan aktif melakukan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dan Musyawarah Besar(Mubes). Mukernas yang berlangsung 1- 3 Februari 2026 lalu menghasilkan 3 program: 1.MengUpdate AD & RT, 2. Menetapkan Rencana dan Program 2026-2030, dan 3. Menyiapkan Generasi Muda Sinaga : "Maju dan Terdepan”.
Keteladanan
Dalam konteks keteladanan, sejumlah nama dikemukakan sebagai contoh kontribusi lintas bidang. Di sektor pendidikan, Prof.Dr/Bob Foster Sinaga berperan dalam pendirian Ganesha Operation (GO) sejak 1984 di Bandung serta turut mendirikan Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), yang berkontribusi pada peningkatan akses dan kualitas pendidikan.
Prof.Dr. Arnaldo Marulitua Sinaga, S.T., M.InfoTech, sebagai Rektor IT Del, menjalankan kepemimpinan akademik dalam pengembangan pendidikan tinggi berbasis teknologi, riset, dan kebutuhan pembangunan nasional.
Di bidang lingkungan hidup, khususnya terkait Bonapasogit dan Danau Toba, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga terlibat dalam kerja advokasi dan edukasi lingkungan serta penguatan kesadaran masyarakat.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses penguatan kawasan Danau Toba hingga memperoleh pengakuan sebagai Toba Caldera Unesco Global Geopark, dengan menekankan integrasi antara ekologi, budaya, dan masyarakat lokal.
Namun demikian, para pengamat menegaskan bahwa nama-nama tersebut bukan satu-satunya. Masih banyak putra dan putri Sinaga lainnya yang berkarya dengan integritas di berbagai bidang, termasuk pemerintahan, diplomasi, hukum, kesehatan, ekonomi, teknologi, budaya, dan pelayanan sosial—baik yang dikenal luas maupun yang bekerja secara senyap namun berdampak signifikan.
Arah Peran Generasi Muda
Sebagai panduan ke depan, sejumlah bidang strategis diidentifikasi sebagai ruang pengabdian Generasi Muda Sinaga, meliputi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, lingkungan hidup dan keberlanjutan, pemerintahan dan kebijakan public.
Kemudian, diplomasi dan kerja sama internasional, teknologi informasi dan transformasi digital, ekonomi kreatif dan kewirausahaan, kesehatan dan pelayanan sosial, hukum dan penegakan keadilan, pelestarian budaya dan adat, serta kepemimpinan sosial dan organisasi kemasyarakatan.
Bidang-bidang tersebut dipandang menuntut integritas, kompetensi, serta kesadaran bahwa kemajuan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial, budaya, dan ekologis.
Dengan berpijak pada sejarah, memelihara budaya, dan memanfaatkan kemajuan teknologi, Generasi Muda Sinaga diharapkan mampu mengembangkan kapasitas digital tanpa kehilangan identitas budaya.
Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan marga, kontribusi terhadap bangsa, dan perlindungan lingkungan hidup di tengah dinamika global.
(Penulis, adalah: Pejabat Bupati Samosir Pertama dan tinggal di Samosir)
