![]() |
| Dua Senator DPD RI Bersama Ketua Pergerakan Kawasan Danau Toba dan GM Geopark Toba, DR Wilmar Simanjorang |
Samosir.Internationalmedia.id.-Krisis ekologi yang melanda Sumatera sepanjang 2025 dan masih berlanjut hingga awal 2026 mendorong dua senator asal Sumatera Utara turun langsung ke lapangan.
Ketua Komite II DPD RI, Dr. Badikenita Br. Sitepu, bersama anggota Komite IV DPD RI, M. Nuh, melakukan penanaman 3.450 bibit pohon di lereng Gunung Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir.
Penanaman dipusatkan di kawasan rehabilitasi hutan Lombang Nabagas, Desa Huta Ginjang Sagala Kecamatan Sianjurmula-Mula Kabupaten Samosir yang merupakan bagian dari 16 geosite Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
Kawasan ini memiliki fungsi strategis sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang menopang stabilitas hidrologi serta menjaga kualitas air Danau Toba sebagai sumber kehidupan masyarakat dengan potensi agroforestry dan destinasi pariwisata nasional.
![]() |
| Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang pemrakarsa Kegiatan saat menjelaskan kegiatan |
Kegiatan ini diprakarsai Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang dengan pendekatan cerdas merupakan kolaborasi multipihak yang melibatkan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), Perum Jasa Tirta I, PT Maher, serta BPDAS Asahan Barumun Kementerian Kehutanan, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Samosir.
Selain penanaman pohon, kegiatan ini dilengkapi dukungan teknis berupa pupuk organik, bak penampung air hujan (balteng) dan durum, sistem irigasi sederhana, serta pembangunan sekat bakar guna mengantisipasi kebakaran hutan yang dalam dua tahun terakhir meningkat akibat musim kering panjang.
Lahan Kritis dan Kebakaran Meningkat
Langkah rehabilitasi ini tidak terlepas dari tekanan ekologis yang terjadi sepanjang 2025. Kawasan lingkar Pusuk Buhit mengalami degradasi serius. Lahan konservasi Pulau Samosir yang ditangani mencapai 950 hektare. Penanaman di lingkar Pusuk Buhit mencakup sekitar 200 hektare, Kecamatan Sianjur Mula-Mula 100 hektare, dan Desa Huta Ginjang 13,5 hektare.
Sementara itu, lahan terbakar di lingkar Pusuk Buhit tercatat sekitar 50 hektare dan 13,5 hektare di Desa Huta Ginjang. Data tersebut menunjukkan bahwa rehabilitasi dilakukan secara terukur dan berbasis luasan konkret dengan perencanaan teknis jangka Panjang yang matang, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Komitmen Korporasi dan Lembaga Teknis
PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menegaskan komitmen berkelanjutan dalam mendukung konservasi kawasan Danau Toba sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan (CSR). Dukungan tersebut mencakup pembiayaan rehabilitasi lahan, penyediaan bibit, perawatan tanaman, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
![]() | |
| Dua Senator DPD RI Bersama Ketua Pergerakan Kawasan Danau Toba dan GM Geopark Toba menanam kebaikan di Puncak Sejarah |
Perum Jasa Tirta I berperan dalam penguatan tata kelola sumber daya air secara terpadu, termasuk menjaga stabilitas debit, mengendalikan sedimentasi, serta memastikan keterhubungan rehabilitasi kawasan hulu dan hilir Danau Toba. Peran ini krusial untuk mempertahankan keseimbangan hidrologi kawasan sebagai sistem penyangga kehidupan.
PT Maher turut berkontribusi melalui partisipasi rehabilitasi lahan dan dukungan operasional lapangan sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan korporasi.
Sementara itu, BPDAS Asahan Barumun Kementerian Kehutanan menjalankan fungsi teknis rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), mulai dari pemetaan lahan kritis, penyediaan bibit sesuai karakteristik agroklimat, pendampingan teknis penanaman, hingga monitoring dan evaluasi pertumbuhan tanaman secara periodik.
BPDAS juga memastikan kegiatan selaras dengan rencana pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) guna menekan erosi dan meningkatkan daya serap air tanah.
Keempat institusi tersebut menegaskan komitmen untuk terus melakukan konservasi kawasan Danau Toba secara berkelanjutan dengan dukungan pengawasan dan kebijakan dari Komite II dan Komite IV DPD RI.
Peran Penggagas: Terobosan PP-DT dan PS-GI
Di balik gerakan ini, sosok penggagas kegiatan, Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, DipL_Ec., M.Si, menjadi motor penggerak utama. Ia merupakan Ketua Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba (PP-DT) sekaligus Ketua Pusat Data Studi Geopark Indonesia (PS-GI).
Dikenal secara nasional sebagai penggiat lingkungan, Wilmar konsisten melakukan terobosan strategis berbasis data, advokasi kebijakan, serta konsolidasi multipihak demi kelestarian Danau Toba sebagai rumah bersama.
Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan bukan sekadar jumlah pohon yang ditanam, melainkan tingkat hidup tanaman dalam tiga hingga lima tahun, termasuk kepastian suplai air, pemupukan, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Ancaman terhadap Status Geopark Dunia
General Manager Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Azizul Kholis, mengingatkan bahwa degradasi lahan dan sedimentasi berpotensi memengaruhi evaluasi UNESCO. Status geopark, tegasnya, bukan sekadar label internasional, melainkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga integritas geologi, biodiversitas, dan budaya kawasan.
Landasan Teologis: Spirit Laudato Si’
Pastor Walden Sitanggang, Ketua JIPIC Sumatera Utara, menegaskan bahwa gerakan konservasi ini juga memiliki landasan moral sebagaimana tertuang dalam ensiklik Laudato si' yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus.
Ensiklik tersebut menekankan tanggung jawab manusia untuk merawat “rumah bersama” melalui pendekatan ekologi integral yang menghubungkan lingkungan, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekonomi.
Infrastruktur Konservasi dan Dukungan Masyarakat
Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, yang memimpin kegiatan mitigasi bencana pascakebakaran pada tahun-tahun sebelumnya didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Samosir, menyatakan bahwa pelestarian hutan berdampak langsung pada iklim mikro, keindahan lanskap, serta pertumbuhan sektor pariwisata.
Pemerintah daerah menurunkan alat berat untuk membuka akses rehabilitasi, membangun sekat bakar, serta menyiapkan sistem distribusi air guna mendukung perawatan tanaman.
Dukungan masyarakat juga terlihat kuat. Tokoh masyarakat Desa Huta Ginjang dari marga Sagala turut ambil bagian, bersama kelompok marga Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru (PPTSB). Semangat konservasi yang militan ditunjukkan oleh Kelompok Tani Hutan Lestari Huta Ginjang yang aktif dalam perawatan dan pengawasan tanaman.
Gerakan rehabilitasi di lereng Pusuk Buhit ini diproyeksikan menjadi model kolaborasi nasional dalam menghadapi krisis ekologi 2026. Lereng Pusuk Buhit kini bukan sekadar lokasi penanaman pohon, melainkan simbol komitmen bersama bahwa penyelamatan Danau Toba adalah keharusan strategis nasional demi keberlanjutan generasi mendatang.(Ung)


